Tren Hallyu di Indonesia: Membentuk Gaya Hidup, Identitas, dan Sifat Konsumerisme

berita28 Dilihat

JurnalPost.com – Di masa sekarang perkembangan teknologi sudah sangat maju. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin mudahnya akses untuk mendapatkan informasi melalui internet dan semakin canggihnya gawai, serta mudahnya komunikasi antar perorang tanpa berhadapan muka ke muka. Semakin canggihnya gawai yang memudahkan akses ke internet membuat masyarakat mengetahui keberadaan budaya luar negeri tanpa harus mengunjungi negara tersebut. Penyebaran informasi budaya luar tersebut dapat berkembang menjadi suatu tren di Indonesia. Penyebaran informasi tersebut berkaitan dengan budaya populer atau budaya pop.

Budaya popular sendiri merupakan suatu budaya yang sedang populer atau sedang ngetren di kalangan masyarakat dan memiliki jangka waktu yang cepat berganti. Biasanya budaya populer berkaitan dengan suatu hal yang digemari masyarakat seperti busana, kecantikan, lagu, dan lain sebagainya, tidak hanya hal yang digemari tetapi budaya populer juga dapat berkaitan dengan suatu masalah yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat.

Akibat mudahnya akses internet di masyarakat terutama di kalangan usia dini, banyak masyarakat terutama kalangan remaja yang mulai mengetahui tentang keberadaan Budaya Hallyu. Budaya pop Korea atau yang biasa kita kenal dengan Hallyu, telah menjadi fenomena yang signifikan di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Terutama dalam industri fashion dan kecantikan, pengaruh ini dapat dengan jelas dilihat melalui gaya berpakaian yang terinspirasi oleh selebriti / idola Korea, serta adanya tren kecantikan yang mulai mengikuti standar kecantikan milik Korea Selatan.

Dengan popularitas drastis dari grup musik, drama, hingga perfilman, penggemar di Indonesia mulai mengadopsi preferensi gaya hidup yang terkait dengan budaya Korea. Hal ini tidak hanya mencakup pada gaya berpakaian, tetapi juga produk kecantikan, seperti makeup dan skincare yang sering dikaitkan dengan Hallyu. Dalam konteks ini penting untuk dipahami bagaimana Hallyu dapat mempengaruhi gaya berpakaian serta standar kecantikan di Indonesia. Kecenderungan konsumen dalam memperoleh barang yang biasa dipergunakan oleh idola nya mendukung teori dalam Sosiologi yang membahas tentang perilaku individu yang gemar mengimitasi, memborong, mengadaptasi budaya barat, dan memunculkan sifat yang gemar mengejar kesenangan semata.

Tidak dapat disangkal bahwa industri hiburan Korea Selatan dijadikan sebagai sarana bagi penggemar untuk mencari kesenangan. Meluasnya peminat budaya Korea secara tidak langsung memberikan pemasukan yang cukup besar di bidang industri lainnya, seperti fashion, dan juga kecantikkan. Tingginya antusiasme terhadap budaya korea selatan mendorong banyaknya peniruan terhadap cara berpakaian, cara berbicara, hingga gaya hidup. Salah satu bentuk dari imitasi budaya korea selatan adalah Korea style.Penggemar mulai berlomba-lomba melakukan proses imitasi terhadap ikon idola nya dengan meniru gaya berpakaian mereka. Secara Sosiologi, imitasi merupakan sebuah proses yang dilakukan seorang individu dengan cara meniru atau mengikuti perilaku, penampilan, hingga gaya bicara individu lain.

Baca Juga  Negara ‘Kekeluargaan’ | Jurnalpost

Peristiwa ini paling jelas terlihat ketika para penggemar menghadiri event-event tertentu idola mereka. Banyak dari penggemar akan mengenakan pakaian yang senada dengan kostum atau outfit yang pernah idola mereka kenakan. Tidak hanya pada event saja, penikmat budaya Korea Selatan akan secara tidak langsung mencocokan gaya berpakaian mereka dengan gaya pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan masyarakat Korea Selatan. Ajang unjuk outfit antar penggemar budaya Korea juga tidak dapat dihindarkan. Penggemar akan terinspirasi dan terdorong untuk meniru pakaian persis ataupun tidak dengan idola nya dari sebuah drama, musik video, ataupun dari style pakaian unik idola masing-masing. Tindakan imitasi terhadap budaya korea selatan mengakibatkan hilangnya budaya asli Indonesia.

Westernisasi merupakan tindakan individu yang cenderung mengidolakan budaya kebaratan yang berakibat negatif terhadap ketertarikan individu terhadap budaya nasional. Selain mempengaruhi gaya berpenampilan suatu individu, pengaruh dari tren Hallyu juga dapat terlihat dalam konsep toko pakaian dan merek lokal. Banyak merek brand lokal Indonesia yang kini telah menggabungkan konsep-konsep trend Hallyu dalam desain produk mereka, cara marketing produk mereka, dan lain sebagainya. Mereka menciptakan suatu produk yang memiliki unsur budaya korea untuk menarik para konsumen, terutama konsumen yang ingin meniru idola mereka.

Para pedagang menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Korea atau embel-embel budaya Korea sebagai bentuk pemasaran mereka untuk mendapatkan perhatian penggemar yang dituju. Sekarang, sudah banyak pemilik usaha yang mengadaptasi budaya Korea ke dalam bisnis mereka. Pedagang baju sudah mulai menjual set-set pakaian dengan inspirasi budaya Korea Selatan. Pengusaha kosmetik pun mulai menggunakan formula kosmetik yang biasa digunakan produk-produk kosmetik Korea Selatan. Begitu juga dengan content creator yang meniru konten industri hiburan Korea Selatan. Bahkan ada beberapa penyanyi Indonesia yang menciptakan dua versi lagu, dalam Bahasa Indonesia dan juga versi Korea dari lagu miliki mereka. Salah satu penyanyi Indonesia yaitu Rossa merilis singlenya The Heart You Hurt / Hati Yang Kau Sakiti dengan versi bahasa Koreanya berjudul 상처 받은 마음.

Hal ini merupakan hasil dari westernisasi yang dirasakan di bidang musikalisasi di Indonesia. Perilisan lagu dengan versi korea bertujuan untuk menarik perhatian para penggemar budaya Korea selatan di Indonesia. Pendapat netizen Indonesia dalam menyambut dan menerima konten Rossa yang menciptakan lagu nya dalam bahasa Korea Selatan juga baik. Ada yang memuji penyanyi karena kefasihannya dalam berbahasa asing, ada juga yang berharap Rossa dapat diundang ke acara tv lokal di Korea Selatan untuk memamerkan kemampuannya dalam bernyanyi dengan bahasa asing. Tidak hanya netizen Indonesia, kolom komentar Rossa juga dibanjiri pujian dari pengguna internet di Korea Selatan. Penyanyi asal Korea Selatan seperti Ryeowook juga ikut memeriahkan kolom komentar di akun Youtube milik Rossa.

Baca Juga  Menilik Kondisi Perlindungan Anak di Sumatera Barat

Pandangan masyarakat untuk menikmati budaya korea Selatan menghasilkan budaya konsumsi yang berlebihan. Konsumerisme merupakan perilaku individu yang mengkonsumsi suatu barang dengan membeli atau memakai suatu barang secara berlebihan. Korea selatan menjadi semakin populer dikalangan masyarakat didukung dengan hadirnya musik, film, skincare dan fashion yang menjadi trend di media sosial akhir-akhir ini. Hal ini membuat budaya korea selatan yang mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Dengan maraknya merek pakaian dan kosmetik yang mengiklankan produk mereka dengan konsep budaya Korea Selatan, para penggemar budaya mereka pun akan membeli produk-produk tersebut sebagai usaha untuk mencapai tampilan yang diinginkan.

Didukung dengan kampanye pemasaran produk tersebut berhasil mempengaruhi persepsi konsumen terhadap penampilan barunya. Melalui pemasaran global dengan platform media sosial yang sudah mendunia dengan mudah mampu mencapai konsumen dari berbagai wilayah. Produk – produk tersebut juga seringkali berkolaborasi dengan idola/selebriti terkenal yang membuat para penggemar membeli produk tersebut sebagai bentuk identitas seorang penggemar bahwa mereka adalah salah satu fans dari idola tersebut. Pandangan masyarakat mengenai budaya korea selatan yang menjadi fokus utama dalam hidup mereka mengakibatkan perilaku konsumerisme yang bertujuan untuk mencapai kesenangan pribadi. Salah satu contoh peristiwa konsumerisme yang dirasakan adalah fast fashion.

Fast fashion merupakan salah satu kegiatan industri pakaian dengan memproduksi pakaian yang mengikuti trend yang sedang terjadi. Hal ini tentunya menarik perhatian kalangan masyarakat apalagi dengan harga yang relatif murah. Maka dari itu semua kalangan masyarakat dapat dengan mudah menjangkau barang produksi. Semakin banyaknya peminat fashion korea selatan yang sedang trending mendorong masyarakat untuk membeli produk pakaian secara berkala tanpa melihat harga. Peristiwa ini mengakibatkan perilaku konsumerisme pada masyarakat.

Penulis: Maria Dominic

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *