Strategi Penurunan Short-form Video Addiction di TikTok Berbasis Teori Ekologi Bronfenbrenner oleh Mahasiswa Psikologi UNAIR

berita31 Dilihat

JurnalPost.com – Seberapa lama sih kamu mengakses video pendek di TikTok dalam sehari?. TikTok menjadi aplikasi yang sangat populer di kalangan remaja dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan We Are Social, aplikasi video pendek atau short-form video  ini bahkan memiliki 1,09 miliar pengguna di seluruh dunia per April 2023. Pengguna TikTok terus meningkat dari tahun ke tahun, dan tercatat bertambah 12,6% dibandingkan pada tahun sebelumnya. Penggunanya didominasi oleh kelompok remaja, yakni mereka yang berusia 18-24 tahun, dengan proporsi 20,9% perempuan dan laki-laki 17,5%. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang menduduki peringkat teratas dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak. Terbaru, pengguna TikTok di Indonesia mencapai 112,97 juta pengguna dan menduduki peringkat kedua dengan selisih 3,52 juta pengguna dari jumlah pengguna TikTok di AS.

Kecanduan Short-form Video
Hal yang menjadi daya tarik dan faktor kecanduan remaja terhadap TikTok adalah video pendek di dalam aplikasi tersebut. Video pendek atau short-form video (SVA) adalah format video yang populer, yang merangkum aktivitas kehidupan dalam hitungan detik hingga menit. Video-video ini dipersonalisasi untuk mengikuti preferensi pengguna, menciptakan nilai hedonis yang memicu ketagihan. Padahal jika dikonsumsi secara berlebihan, SVA ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Penelitian oleh Elhai dan rekan-rekannya pada tahun 2017 menemukan bahwa kecanduan short form video atau short form video addiction dapat menyebabkan gangguan tidur, nyeri tubuh, mata kering dan buram, kecemasan, penurunan interaksi sosial, depresi, kesepian, hingga isolasi sosial. Dampak ini lebih memprihatinkan karena remaja lebih rentan terhadap adiksi dan sedang dalam fase pencarian identitas. Maka dari itu, penting untuk mengatasi masalah SVA secara holistik dan efisien, terutama dalam konteks Sustainable Development Goals (SDG) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi muda dan kesejahteraan psikologis. Fokus pada SDG 3, yakni pada poin Good Health and Well-Being.

Baca Juga  PPSDM Migas Dampingi Pemkab Blora untuk Bangun Zona Integritas menuju WBK dan WBBM

Pendekatan Teori Ekologi Bronfenbrenner dalam Mengatasi SVA
Pendekatan teori ekologi Bronfenbrenner memandang keluarga sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perilaku anak dalam respons terhadap SVA. Interaksi dalam keluarga dapat membentuk cara anak berperilaku dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Konflik dan fungsionalitas keluarga memainkan peran penting dalam mengatasi SVA.

Maka dari situlah, Tim Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan beranggotakan Siska Novita Gozaly (Psikologi 2020); Nabila Anzelina (Psikologi 2020); Alyaa Saniyyah Imtiyaaz (Psikologi 2020); Maulia Gitawati Indiswari (Psikologi 2021); dan Amiroh Untsal Asad (Psikologi 2021) melakukan penelitian yang berjudul “TikTok dan Dinamika Keluarga: Strategi Penurunan Short-form Video Addiction pada Remaja Indonesia Berbasis Teori Ekologi Bronfenbrenner“ untuk mengetahui hubungan antara fungsionalitas keluarga, konflik keluarga, dan adiksi video pendek, dengan coping strategy sebagai mediator.

“Seperti judul riset, riset ini menggunakan basis Teori Ekologi Bronfenbrenner yang mana melihat fenomena short form video addiction dari sudut pandang yang luas dan kompleks. Penelitian model ini belum pernah ada sebelumnya,” katanya.

“Selain itu, munculnya variabel mediasi coping strategy juga menambah kebaruan riset kami. Secara garis besar, riset model ini beda karena sudut pandanganya yang holistik dengan memperhatikan aspek keluarga serta individu dan populasi sasarannya yang belum pernah jadi subjek pada penelitian sebelumnya,” imbuh Siska.

Raih pendanaan dari Kemendikbud Ristek
Penelitian ini mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dalam Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2023.  Meski sempat terkendala proses membangun kerja sama dengan mitra SMP untuk pengisian kuesioner kuantiatif penelitian, penelitian Siska dan tim sudah mencapai tahap pengumpulan artikel untuk publikasi dan pembuatan laporan akhir.

Baca Juga  Tragedi Rempang, Kemana Nurani Petinggi Negri?

“Kami melakukan penelitian ini di Surabaya. Karena kami memerlukan perwakilan untuk setiap kluster, waktu dan tenaga kami banyak dihabiskan untuk berkeliling ke setiap kluster Surabaya. Meski, belum tentu setiap sekolah yang kami datangi mau bekerja sama,” ujarnya.

“Puji Tuhan, kami sudah selesai melakukan riset dan mau mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada lima sekolah yang akhirnya bersedia untuk bekerja sama dengan kami dan beberapa informan, baik dari psikolog, pemerintah, orang tua, dan anak untuk melakukan wawancara,” ungkap Siska.

Siska dan tim berharap, melalui penelitian ini nantinya dapat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait aspek psikologis, keterlibatan keluarga, dan peran coping strategy individu sebagai bentuk penjelasan dan prevensi short-form video addiction.

“Di samping manfaat yang diberikan kepada para praktisi psikologi pendidikan dan keluarga, penelitian ini dapat bermanfaat bagi individu remaja pengguna TikTok, orang tua, tenaga pendidik, dan pihak sekolah serta akademisi,” ujarnya.

“Dengan demikian, kami berharap agar masyarakat dapat lebih bijaksana menggunakan teknologi smartphone, khususnya sosial media yang dapat menyebabkan adiksi bagi individu,” imbuhnya.

Penulis:
Siska Novita Gozaly, Nabila Anzelina, Alyaa Saniyyah Imtiyaaz, Maulia Gitawati Indiswari, Amiroh Untsal Asad
Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *