Pemahaman Inklusifitas Islam Muslim Indonesia

Oleh: Yudhi Andoni
Dosen Sejarah Universitas Andalas, Padang

JurnalPost.com – Gagasan inklusifitas Islam di Indonesia sangat penting di tengah menguatnya konflik sosial antar-anak bangsa akhir-akhir ini. Setiap elemen keislaman di negeri ini mesti menyadari pentingnya pemahaman inklusifitas Islam dalam praktik-praktik sosial mereka.

Islam bila merunut pada pemahaman Nurcholish Madjid (Cak Nur) sejak masa awal perkembangannya adalah agama yang menjunjung tinggi sikap inklusif terutama menyangkut kehidupan sosial pemeluknya dengan pemeluk agama lain. Islam adalah sebuah agama terbuka yang berlawanan dengan cara beragama yang fanatik dan tertutup. Hal inilah yang menjadi konsepsi inklusifitas Islam Indonesia sejak lama.

Jalan kepasrahan
Islam sangat kuat dengan ide dan pembahasan tentang ajaran jalan kepasrahan hanya kepada Tuhan. Kepasrahan total ini merupakan bentuk universalisme Islam. Universalisme Islam dengan demikian sebuah pencarian sekaligus penemuan jalan prinsip-prinsip millat Ibrahim yang hanif dan muslim; ajaran mencari dan berpegang teguh kepada kebenaran secara tulus dan lapang (samhah), yang all inclusive (Nurcholish Madjid, Kecendekiawanan dan Religiusitas Masyarakat, 1999).

Munculnya masyarakat modern kini membawa keraguan terhadap peran agama dalam kehidupan mereka, tak kecuali kaum Muslim di negeri ini. Sebagian para manusia modern ini berpandangan bahwa Islam hanya akan membawa pemeluknya pada sikap tidak toleran dan tertutup. Pandangan “tradisional” kaum modernis itu jelas mengada-ada.

Justru di tengah pluralitas masyarakat seperti Indonesia, penghayatan Islam yang terbuka merupakan hal penting. Sebab, Al Quran sebagai sumber ajaran Islam yang berwawasan inklusivistik dapat menjadi dasar kehidupan bermasyarakat bagi pemeluknya.

Sesungguhnya semakin dekatnya seseorang pada Al Quran, menjadikan setiap Muslim semakin toleran pada umat lain.

Justru ketertutupan beragama secara sosial merupakan bentuk kefanatikan berlebihan pada agamanya sendiri dan memandang kebenaran sejati hanya ada pada kelompoknya. Ketertutupan tersebut utama sekali didorong adanya klaim kebenaran yang menafikan kebenaran agama lain yang ada.

Secara substansial paham keberagamaan secara terbuka dalam Islam mengandung arti bahwa kita percaya kebenaran seluruh agama lain ada juga dalam agama kita dan agama-agama lain itu berhak untuk hidup serta dilindungi (Madjid, Dialog Keterbukaan, 1998).

Baca Juga  PPSDM Migas Tingkatkan Kompetensi Pengawas Pemboran ExxonMobil Cepu Limited

Plural
Setiap agama sejatinya memang mengajarkan kesucian dan kebenaran ajarannya masing-masing. Tetapi memandang semua agama adalah sama, merupakan retorika yang menyesatkan. Pandangan ini tidak dapat dibenarkan mengingat banyaknya perbedaan prinsipil diantara agama-agama tersebut, terutama menyangkut keesaan Tuhan.

Islam mengakui perbedaan prinsipil ini dalam Q.S. al Kafirun surat ke-109, yang menegaskan posisi kaum Muslim terutama ayat keenamnya. “la kum din-u kum wa li-a al din, untukmu agamamu, untukku agamaku”. Meskipun demikian, pengakuan itu juga maksudnya semua agama di luar Islam, memiliki hak untuk eksis di dalam suatu hubungan sosial yang toleran, saling menghargai, saling membantu, menghormati dan sebagainya.

Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, para pemeluk agama jelas diminta bersikap toleran dan mengembangkan paham inklusif ini. Sikap inklusif dalam beragama memiliki implikasi teologis dan sosial. Keterbukaan secara teologis muncul dari dalam masyarakat Muslim sendiri (internal) sehubungan beragam interpretasi penghayatan keislaman.

Dimensi keterbukaan Islam ini dapat dikembangkan melalui, pertama, pemahaman dimensi Qurani Islam yang tidak membatasi Islam hanya pada satu pola budaya Timur di masa lalu, dan yang akan melepaskan ketertutupannya sekarang. Kedua, memahami dan mengembangkan nilai kesufian dalam Islam dengan mengikis formalitas beragama secara sosial dan kepedulian akan kemanusiaan. Ketiga, memahami dan mengembangkan dimensi sosial Islam. Keempat, menghidupkan jiwa kritis Islam lewat ijtihad. Kelima, mengakhiri mentalitas isolatif (mengukung diri) dan membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain di luar kaum Muslim.

Penghayatan kaum Muslimin Indonesia sejak awal terhadap ajaran agamanya tidak dapat dipisahkan dari munculnya fenomena beragamaan seperti, Neo-sufisme, tarekat, kultus dan kepercayaan akan mesianisme sepanjang kurun 1900-sekarang.

Pemahaman ajaran Islam lewat penghayatan yang dinamis dan kritis kepada fakta-fakta historis Islam tanpa klaim kebenaran yang bersifat khilafiyah tersebut merupakan kunci memahami nilai inklusif Islam yang telah mewujud sejak lama. Lewat penghayatan keagamaan Islam yang dinamis dan kritis tersebut ia dapat menjadi titik tolak pengayaan intelektual dan kultural umat ketika berinteraksi sosial.

Baca Juga  Teater Gaza dan Sandiwara Kemanusiaan PBB

Neo-Sufisme
Salah satu dasar historis dari akar inklusifitas Islam di Indonesia adalah keberadaan paham dan praktik Neo-sufisme yang muncul di awal Orde Baru. Era Orde Baru merupakan wadah kecambah menguatnya Neo-Sufisme di kalangan Umat Islam, terutama di perkotaan.

Neo-sufisme merupakan gejala baru penghayatan ajaran Islam dalam komunitas Muslim perkotaan. Dalam Islam penghayatan keagamaan itu tidak dapat dipisahkan dari konsep eksoterik dan esoterik.

Penghayatan secara eksoterik mengarah kepada yang lahiriah dengan menitikberatkan perhatian pada segi-segi syariah atau hukum (fiqh). Dan penghayatan esoterik, mengarah kepada amalan-amalan yang bersifat batiniah atau kesufian (melepaskan diri dari gelimangan duniawi).

Jadi singkatnya Neo-Sufisme merupakan perpaduan penghayatan keberagamaan Buya Hamka dan Ibn Taymiyah, sebagai penghayatan esoterisme Islam, namun sekaligus terikat pada ajaran-ajaran standar ke-syariah-an. Artinya, setiap muslim mestilah berjalan di atas keseimbangan penghayatan ajaran agamanya.

Neo-sufisme sendiri menurut Cak Nur merupakan bentuk penghayatan keislaman yang tidak saja menekankan dimensi kebatinan semata, namun juga menekankan pelibatan diri dalam aktivitas masyarakat. Gerak penghayatan keagamaan secara seimbang merupakan reduksi dari hukum Allah (sunnat-u ‘l-Lah) tentang perputaran alam raya.

Jika alam raya merupakan makro kosmos yang berputar seimbang, maka manusia sebagai mikro kosmos (jagad kecil) mesti memelihara hukum keseimbangan ini. Dengan tetap berpegang pada praktik dan pengamalan menurut Quran dan Hadits, neo-sufisme ini menganjurkan dibukanya peluang bagi penghayatan makna keagamaan yang lebih mendalam, yang tak terbatas hanya kepada segi lahiri (eksoterik) (Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban (Jakarta: Paramadina, 2000), hlm. 77-88).

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *