Melangkah Sendiri : Bali dari Lensa Gadis 18 tahun

Oleh: Dhea Salma Rihadatul Aisyah

JurnalPost.com – Bali selalu menjadi tujuan wisata yang ideal dengan keindahan alam dan kekayaan budaya yang memikat. Surga tropis yang melibatkan persawahan hijau, pegunungan, pantai selancar hingga beningnya air terjun menjadikan pulau kecil di Indonesia ini selalu menjadi incaran para pelancong. Termasuk gadis 18 tahun yang memiliki mimpi untuk bisa mengunjungi setiap inch pasir pantai di Indonesia tentunya Bali menjadi daftar impian yang ingin dikunjungi dalam waktu secepat mungkin.

Dua jam menuju tengah malam membawa lamunan untuk mengisi waktu libur semester genap dengan melepas catatan kuliah dan buku bacaan tebal. Saat itu, alasan sederhana datang dari pelarian rutinitas sibuk kuliah dan bentuk apresiasi mampu menata hidup sendiri di kota rantauan. Berhasil hidup sendiri selama setahun bukan hal mudah bagi gadis 18 tahun yang sedari kecil hidup bergantung pada anggota keluarga.

Hal ini, memunculkan semangat lebih mencari hal baru dan melangkah dari comfort zone. Mencari tantangan lainnya untuk mengetahui cara menangani ketidakpastian dari banyak perubahan proses pendewasaan. Tertarik menumbuhkan diri dari pengalaman baru, aku si gadis berusia 18 tahun segera menghubungi ibunya dan menyampaikan keinginannya untuk solo travelling ke Bali pada keesokan hari.

Merumitkan pikiran akan respon yang akan ibunya berikan, segala resiko dan berbagai kemungkinan lainnya membuat aku tidak bisa tidur malam itu. Pagi hari tiba dan keberanianku mulai menciut tetapi motivasi akan mencoba hal baru membuatku memberanikan diri untuk meminta izin. Ekspresi ibuku pertama kali mendengarkan permintaanku adalah dahinya mengernyit, tapi tak lama dari itu ibuku memperbolehkan dan mendukungku untuk melakukan perjalanan ke Bali seorang diri.

Kegembiraan menyelinap dengan kejutan tak terduga melibatkan keajaiban dalam perpaduan kaget dan senang, seperti tarian bintang yang menyinari langit malam. Iya, hari itu aku tidak percaya akan diberi izin untuk melanjutkan perjalanan. Senyum kebahagiaan pun tak kunjung usai seharian. Itulah keunikan hidup, penuh dengan perasaan yang bercampur aduk, seolah sebuah lukisan indah yang tercipta dari palet emosi yang beragam.

Persiapan memerlukan waktu hanya 3 hari untuk aku berangkat menuju petualangan impian. Menentukan pilihan transportasi dan tujuan perjalanan membuatku bingung dan kesulitan karena belum adanya pengalaman sama sekali. Aku memutuskan untuk bergabung dengan open trip di Bali. Beragam pilihan destinasi wisata membuatku memilih beberapa daya tarik utama Bali seperti keindahan pantai dan tempat kebudayaan.

Pada tanggal 5 Juli 2023 merupakan hari yang dinantikan datang dan rasa ketakutan kembali muncul mengisi pikiran dan hati. Kegelisahan dan kecemasan hadir mengacau rencana yang telah disiapkan. Bergegas menuju transportasi gugup karena pertama kalinya bepergian melintas pulau sendirian. Meski ketakutan melanda, aku mencoba menenangkan diri. Aku ingat semua motivasi dan keinginan untuk melangkah keluar dari zona nyamanku. Mencoba membiasakan diri setiap detiknya, memahami bahwa ketidaknyamanan ini adalah bagian dari petualangan yang kudambakan.

Baca Juga  Miku video viral link full

Aku memulai perjalanan dari kampung halamanku di Tegal, Jawa Tengah menuju Bali menggunakan transportasi darat pada pagi hari yang berarti diperkirakan keesokan harinya sudah berada di Bali. Perjalanan ini masih terasa tidak nyata dan aku masih meragukan kedisiplinan diri. Melalui beberapa pemberhentian dan 20 jam perjalanan, penyesuaian terhadap lingkungan asing dan baru mulai menumbuhkan rasa nyaman pada diri sendiri.

Keterbatasan informasi dan waktu untuk mencari tahu saat solo traveling pertama kali membuat banyak kurang persiapan. Tetapi, tidak membuat suatu perjalanan menjadi kurang atau tidak utuh sebagai petualangan luar biasa. Kekurangan di setiap langkah membuat setiap langkah perjalanan unik. Seperti saat berhasil menyebrang ke Pulau Bali, tujuan pertama adalah dinner di pinggir pantai Jimbaran karena tidak mempersiapkan membawa tripod aku memberanikan diri untuk meminta tolong orang sekitar untuk mengambil beberapa gambar saat di pinggir pantai tapi hasilnya tidak memuaskan karena segi pengambilan fotonya yang miring dan blurry. Adanya kejadian tersebut aku tidak bisa menyalahkan orang lain dan keadaan melainkan sadar akan kesalahan agar lain kali membawa tripod yang mampu membantu aku untuk mendokumentasikan pengalaman. Bagaimanapun aku masih ingat dengan jelas deburan ombak malam hari yang magical dan adanya bulan yang menemani.

Tak lama setelah makan malam, waktunya istirahat untuk melanjutkan petualangan di esok hari dengan menuju ke tempat penginapan yang berada di Denpasar, Bali. Tantangan kembali hadir dan kecemasan kembali muncul karena telah menghabiskan waktu dua hari di perjalanan yang melelahkan takut tidak bisa bangun tepat waktu di esok hari dan mengganggu agenda jelajah Bali. Ketakutan berhasil diatasi karena sukses berkumpul tepat waktu sebelum menuju tempat wisata.

Mengawali hari dengan menjelajahi kebudayaan Barong dan Tarian Kris di Cening Bagus membawa suasana kedamaian akan penerimaan terhadap perbedaan budaya dan belajar budaya baru. Rasa antusias dan kegembiraan juga timbul setelah mendapatkan wawasan baru tentang budaya yang berbeda. Setelah belajar budaya baru, aku merasa lebih terbuka terhadap keberagaman dan perbedaan. Pertunjukkan budaya harusnya lebih banyak lagi bukan hanya sebagai entertain tetapi juga menjaga kelestarian budaya Indonesia yang bermacam-macam.

Menjelajahi budaya Bali menambah toleransi yang tinggi karena keberagaman latar belakang dapat hidup secara berdampingan. Salah satunya dibuktikan dengan adanya Tempat Ibadah Puja Mandala yang melibatkan segala rumah agama dari pura, vihara, gereja, hingga masjid. Toleransi beragama yang tinggi di Bali mampu menjadi panutan untuk seluruh wilayah Indonesia agar terciptanya budaya toleransi beragama di berbagai tempat. Aku menyempatkan beribadah Puja Mandala di masjid Agung Ibnu Batutah dan merasakan bertemu kedamaian saat bertemu dengan penganut agama lainnya di kawasan Puja Mandala.

Baca Juga  WorldTradeCenter viral video tiktok

Beralih menjelajah dari budaya menuju keindahan alam yaitu Pantai Melasti. Namun, musim panas saat itu tidak didukung dengan cuaca cerah. Langit kelabu menghiasi pandangan pantai putih cantik dengan air biru tidak mengurangi kecantikan dari keindahan pantai Melasti. Keindahan juga dilukis dengan bertemu orang baru dan membuat pertemanan baru di Pantai Melasti merupakan kejadian membekas di hati. Menikmati suara ombak dan berjalan di pasir putih bersih meninggalkan jejak keberanian dan bukti keberhasilan menghadapi ketakutan diri sendiri. Sendunya suasana langit ingin rasanya menghabiskan waktu hanya untuk duduk dan melihat gulungan ombak seharian.

Hari selanjutnya tidak kalah membahagiakan hati karena proses pembelajaran di setiap langkah membentuk pengertian keterbukaan. Keindahan seni dari maestro Indonesia juga dapat dinikmati di Bali. Monumen GWK memberikan pesan untuk setiap manusia khususnya masyarakat Indonesia agar mempunyai misi memelihara dan penyelamatan lingkungan, bisa menjaga alam serta kearifan lokal. Penampilan kebudayaan tarian kecak di GWK mampu membawa penonton menikmati keseruannya walaupun dari berbagai daerah bahkan negara.

Bertualang budaya di Bali tidak ada habisnya. Kesempatan ini aku eksplor cagar alam di hutan Sangeh. Berkeliling di sini memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Tak hanya memahami kekayaan cagar alam, tetapi juga dalam meningkatkan toleransi agama. Sesampainya di Monkey Forest Sangeh, langsung disambut dengan beragam monyet. Desa ini membiarkan monyet berkeliaran dengan bebas dan dianggap suci. Melalui perjalanan ini, pelajaran penting yang didapat akan pentingnya menjaga harmoni akan flora fauna dan toleransi beragama.

Penelusuran di Bali diakhiri dengan mengunjungi Pura Ulun Danu Bratan yang masih aktif digunakan untuk beribadah. Berkeliling Bali membuat diriku semakin mengerti pentingnya mengenal budaya Indonesia yang beraneka ragam tetapi dengan menjunjung peran penting ideologi bangsa “Bhinneka Tunggal Ika”. Toleransi bukan hanya peraturan tertulis semata melainkan digambarkan dalam kehidupan sehari-hari di Bali. Setiap sudut Bali indah melibatkan mata dan hati.

Waktu liburan yang bermakna mulai menyadarkan diri bahwa menghadapi keberanian berarti bentuk keberhasilan berkenalan dengan diri sendiri. Makna dari setiap kekurangan perjalanan bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan dengan baik tetapi menerima di setiap petualangan membutuhkan pengorbanan. Liburan singkat ke Bali sendiri bentuk keberhasilan diriku untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lewat bentuk tanggung jawab pada diri sendiri dan tidak mengandalkan orang lain.

Melalui setiap tantangan, aku menemukan kekuatan di dalam diri yang tak terduga dan menemukan keindahan di setiap sudut yang belum dikunjungi. Solo traveling menjadi cermin diri, dimana setiap keterbatasan bukanlah akhir dari petualangan, melainkan awal dari penemuan yang lebih dalam tentang diri sendiri. Menemukan arti kepercayaan orang tua memberikan izin juga bentuk dari mencintai melalui sikap memahami, mempercayai dan memberi dukungan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *