Kesuksesan Karir Beverly Gunawan di Industri Media

Beverly Gunawan, Corporate Communication Head Emtek

Penulis: Annisa Garnis Ning Pratiwi, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPBUniversity

JurnalPost.com – Memiliki karir yang gemilang pada industri media tentu menjadi impian bagi banyak orang yang bercita-cita tinggi. Meniti karir dalam industri media mungkin terasa menjadi sebuah mimpi yang jauh dari jangkauan manusia. Di dalam dunia yang terus berkembang, menjadi figur yang dikenal dan berpengaruh dalam industri media dapat menjadi suatu pencapaian yang luar biasa. Bagi seorang Beverly Gunawan, pencapaian yang luar biasa ini dimulai dari mimpi yang tak terduga yang dapat membawanya menuju kesuksesan.

Beverly Gunawan, seorang Corporate Communication Head dari perusahaan induk, yaitu PT. Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) yang sudah memulai karir di industri media sejak tahun 2011. Ia lahir pada tanggal 20 Desember 1988 di Jakarta. Lulus dengan predikat summa cumlaude di Loyola Marymount University di Los Angeles, California pada tahun 2010.

Selama meniti karir di PT. Elang Mahkota Teknologi, Beverly melakukan beberapa liputan eksklusif dan wawancara. Ia pernah meliput kisah tentang Presiden Joko Widodo sejak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga pada saat melakukan kampanye Presiden. Selain politik, ia juga merupakan seorang reporter yang melakukan liputan kuliner. Ia telah meliput jajanan kaki lima yang unik hingga santapan lezat di Indonesia dan juga di luar negeri.

Berawal dari Ketidaksengajaan, Berubah menjadi Kesenangan

Meniti karir yang cukup lama di industri media, ternyata Beverly mengawali karir sebagai seorang reporter merupakan suatu hal yang tidak disengaja. Berawal dari dirinya yang hanya ingin magang menjadi seorang reporter di Liputan 6 SCTV, ternyata ia menyukai pekerjaan tersebut. Setelah mendapatkan kesempatan untuk meliput dan mewawancarai politisi, ia merasa bahwa menjadi seorang reporter sangat menyenangkan bagi dirinya. Bagi Beverly, menjadi seorang reporter dapat memberikan kesempatan untuk melihat dan mengungkap sisi-sisi dari dunia yang kerap kali tidak terlihat.

Beverly mendapatkan kesempatan yang luar biasa pada saat ia menjadi seorang reporter, seperti travelling ke berbagai pelosok di Indonesia, seperti dari Aceh hingga Jayapura, perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, agenda liputan kunjungan Presiden Luar Negeri pada Acara G20, hingga berkunjung ke White House dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara.

Tidak hanya menciptakan pengalaman yang menyenangkan, menjadi seorang reporter bagi Beverly juga dapat mempelajari segala macam isu yang sedang terjadi. Menjadi  reporter bisa mempelajari sesuatu tergantung dengan isu apa yang sedang terjadi, mewawancarai narasumber yang berelevansi dengan isu tersebut, dan melihat peran media yang sangat signifikan dalam membentuk persepsi di masyarakat terhadap isu yang sedang terjadi. Sebagai pihak media, harus netral dalam memberikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Hal ini akan membantu masyarakat untuk memahami suatu informasi.

Selain dapat membantu masyarakat, bagi Beverly seorang reporter juga dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat. Misalkan pada saat memberitakan suatu peristiwa bencana alam di suatu daerah. Dengan hal tersebut, reporter akan bertugas untuk memaparkan bagaimana situasi di lokasi yang terdampak bencana alam dan bantuan apa saja yang korban butuhkan. Lalu hal tersebut disiarkan kepada khalayak. Reporter akan merasa sangat bahagia apabila korban bencana mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan dari khalayak.

Baca Juga  Melalui Program KKN-BBK 3, Mahasiswa Unair Lakukan Trobosan Pembuatan Lilin Aromaterapi dengan Bahan Alami dan Terjangkau

Transisi Karir

Beverly memulai karirnya sebagai reporter lapangan pada tahun 2011. Ia bertugas mencari berita dan mewawancarai narasumber. Setelah menjadi reporter selama 2 tahun, ia dipercaya siaran berita sebagai presenter per biro daerah Liputan 6, seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, dan Jawa Timur. Setelah menjadi presenter biro, ia sempat menjadi presenter pada program Buser Investigasi, Liputan 6 Pagi, dan Liputan 6 Siang. Pada saat itu, ia masih menjadi seorang reporter.

Mulai tahun 2016, Beverly mulai menjadi seorang presenter dan produser. Pada saat ia menjadi produser, ia bertugas untuk mengolah berita yang didapatkan dari seorang reporter kemudian hal tersebut dikemas menjadi paket berita. Produser juga menentukan rundown berita apa saja yang masuk pada hari tertentu. Tidak hanya menentukan rundown, produser juga membuat refleksi. Misalkan pada esok hari ingin mengambil isu apa dan berita apa. Dari hasil proyeksi tersebut, koordinator liputan akan menugaskan reporter perlu mengambil berita apa dan mewawancarai siapa saja. Tugas akhir pada saat ia menjadi seorang penyiar dan produser, yaitu membuat berita dan memulai siaran di studio. Siaran yang dilakukan melalui program yang sudah terdapat di rundown yang telah dibuat oleh dirinya sendiri.

Selesai menjadi seorang presenter dan produser, Beverly menjadi seorang Corporate Communication Head di perusahaan induk yaitu PT. Elang Mahkota Teknologi (EMTEK). Ia bertanggung jawab untuk mempersiapkan dari manajemen ada dari BOD kalau ada kehadiran. Kemudian corporate communication akan menangani wawancara dari media apabila terdapat pertanyaan dari beberapa media. Pihak corporate communication akan memastikan siapa narasumber akan menjawab pertanyaan dari media.

Hal yang mendasari Beverly untuk beralih dari peran jurnalistik ke peran corporate communication yaitu, ia menjadi paham bagaimana sebuah perusahaan di running seperti apa. Yang tadinya cuma hanya mengetahui di lingkup liputan pemberitaan, akan tetapi kalau corporate communication menjadi paham akan kemampuan untuk melihat gambaran besar terhadap semua aspek komunikasi perusahaan secara keseluruhan, bagaimana industri media membuat konten, dan bagaimana melalui konten yang menarik mendapatkan klien atau pengiklan.

Kesamaan keterampilan yang dimiliki pada saat Beverly menjalani peran sebagai jurnalis dan corporate communication yaitu keterampilan storytelling. Reporter mencari narasumber yang dapat memberikan sudut pandang atau informasi yang menarik dan relevan. Kalau informasi yang disampaikan kurang menarik, informasi tersebut  akan terlihat monoton dan kurang seru untuk dibahas. Pada saat ia menjadi seorang corporate communication, jika melihat jurnalis yang datang untuk wawancara, maka ia dapat menyiapkan narasi yang menarik untuk keperluan media tersebut. Dan untuk mekanisme pelaksanaannya, pihak jurnalis akan dibantu oleh corporate communication untuk menyesuaikan bagaimana mereka akan mengkoordinasikan antara stakeholder yang ingin di wawancara dengan jurnalis tersebut. Pihak jurnalis dan corporate communication juga sama-sama bisa menyajikan informasi yang cocok untuk dikonsumsi khalayak.

Tantangan yang Dihadapi dan Pengalaman Berkesan

Bagi Beverly, tantangan yang dihadapi pada saat menjalani karir di bidang jurnalisme yaitu, pada saat mencari narasumber yang diinginkan. Ia harus membuat strategi bagaimana supaya ia dapat wawancara eksklusif dengan narasumber yang sebelumnya harus melalui proses lobi. Ia juga dituntut untuk meyakinkan narasumber bahwa ia memang patut untuk mendapatkan wawancara spesial dengan narasumber tersebut. Untuk mewawancarai seorang figur juga harus meyakinkan ke ajudannya atau ke asistennya terlebih dahulu. Hal ini ia alami pada saat ia mewawancarai Presiden Jokowi dari awal ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga ia menjadi Presiden RI. Proses yang ia lalui cukup panjang yang terkadang harus menunggu atau bahkan mengejar hingga ke kota lain.

Baca Juga  Politik Abad ke-21: Antara Kemajuan dan Kontroversi

Meskipun terdapat tantangan, tersapat pengalaman berkesan yang Beverly rasakan semasa menjalani karir di bidang jurnalisme yaitu, pada saat ia mengikuti kunjungan Presiden Jokowi ke Hangzhou, Cina untuk menghadiri acara KTT G20 pada tanggal 4-5 September 2016. Pada saat itu, ia bisa masuk di satu ruangan dengan beberapa kepala daerah dari negara-negara sahabat dan negara G20. Ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pada proses peliputan berita, juga terdapat beberapa wartawan dari mancanegara. Ia harus berpacu dengan waktu. Setelah liputan, ia harus mengirim materi beritanya, kemudian ia kembali ke Indonesia. Ia diharuskan untuk memiliki kemampuan untuk mengedit dan menjadi kameramen pada event-event besar . Bagi Beverly, hal ini sangat menantang dan memerlukan kemampuan multitasking yang tinggi.

Pada saat menjalani karirnya sebagai corporate communication, Beverly menghadapi tantangan pada saat perusahaan mendapatkan isu yang kurang positif dari khalayak. Pada saat inilah perannya sebagai corporate communication harus menjawab pertanyaan dari media, akan tetapi juga menjaga image dari perusahaan tersebut. Pihak corporate communication akan memberikan informasi yang sesuai dan bisa memberikan jawaban meskipun itu negatif, pihak corporate communication dapat memberikan jawaban yang netral. Meski pemberitaan tersebut negatif, tetap ada sisi positif yang ditimbulkan dari pemberitaan tersebut.

Pengalaman berkesan yang Beverly rasakan semasa menjalani karir sebagai corporate communication yaitu, bagaimana ia banyak berurusan dengan manajemen dari BOD dan BOC yang memiliki keterampilan dan keahlian yang tinggi. Tentunya corporate communication dapat menyelaraskan pandangan satu sama lain.

Mengelola Tuntutan dan Tekanan sebagai Corporate Communication

Menurut Beverly, cara mengelola tuntutan dan tekanan yaitu, dengan cara mengenal banyak orang di perusahaan tersebut. Semakin banyak mengenal orang, akan semakin mudah juga pekerjaan tersebut untuk dijalankan. Dengan banyaknya kenalan di perusahaan, corporate communication bisa lebih mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan berkolaborasi dengan tim.

Beverly memberikan motivasi kepada mahasiswa  yang ingin berkarir di dunia komunikasi untuk memahami perusahaan yang mereka wakilkan. Saat menulis cerita, sangat penting untuk benar-benar memahami isi cerita agar bisa mengkomunikasikannya dengan baik. Pertama-tama, harus benar-benar memahami topiknya, lalu membuat cerita yang menarik.

“Dalam industri komunikasi, kita bertugas membuat informasi berupa tulisan atau audio visual yang dapat dinikmati oleh khalayak kita. Penting untuk bisa mengolah informasi sedemikian rupa sehingga disukai oleh khalayak. Jika informasi tersebut tidak disukai oleh khalayak, maka itu tidak efektif. Kuncinya adalah membuat informasi atau konten yang bisa diingat oleh khalayak.”

“Jika informasi atau audio visual dapat diingat oleh khalayak, itu tandanya berhasil dalam membuat konten. Ini bisa dilakukan dengan menyajikan informasi secara menarik, menggunakan narasi yang kuat, dan memilih gaya yang sesuai dengan preferensi khalayak. Dengan begitu, kita dapat menciptakan konten yang benar-benar memengaruhi dan diingat oleh khalayak.”

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *