Kesalahan Penulisan Ijazah Terlihat Simpel, tetapi Membahayakan

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro, M.Hum.
Universitas Andalas

JurnalPost.com – Tahun ini, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengumumkan terkait penerimaan calon aparatur sipil negara (CASN). Tentunya, berbagai hal harus dipersiapkan oleh banyak pihak, salah satunya adalah ijazah. Ijazah, sebagai salah satu prasyarat untuk mendaftar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di berbagai negara, termasuk Indonesia, sering kali menjadi subjek kritik. ASN adalah bagian integral dari mesin pemerintahan, dan persyaratan yang terkait dengan ijazah mereka mencerminkan norma-norma dan harapan sosial dalam seleksi dan rekrutmen aparatur pemerintah. Namun, kritik terhadap penggunaan ijazah sebagai syarat masuk ke dalam ASN meliputi beberapa aspek.

Pertama, terdapat argumen bahwa persyaratan tingkat pendidikan yang tinggi dapat membatasi akses ke pekerjaan pemerintah bagi individu yang mungkin memiliki kualifikasi atau pengalaman praktis yang lebih relevan, tetapi tidak memiliki ijazah yang sesuai. Ini bisa menjadi hambatan bagi diversifikasi ASN dan inklusi sosial. Kedua, terkadang ada kontroversi terkait dengan keaslian ijazah dan transkrip akademik, yang menimbulkan masalah kepercayaan dalam proses rekrutmen. Selain itu, pertanyaan muncul tentang relevansi ijazah dengan tugas sehari-hari ASN, terutama di dalam dunia kerja yang terus berubah dan semakin kompleks. Meskipun kritik ini ada, sistem ASN masih mengandalkan ijazah sebagai indikator penting dalam penilaian kualifikasi calon pegawai negeri.

Selain itu, ijazah pun memiliki sejumlah manfaat yang signifikan. Salah satunya adalah membuka peluang karier yang lebih baik dengan akses ke pekerjaan tertentu atau posisi yang lebih tinggi dalam berbagai industri. Selama mengejar gelar, individu mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dalam bidang studi mereka, yang kemudian dapat mengasah kemampuan analitis, pemecahan masalah, dan berpikir kritis. Selain itu, pendidikan akademik sering kali melibatkan pelatihan praktis dan pengembangan keterampilan yang sangat diperlukan dalam dunia kerja, seperti keterampilan komunikasi, manajemen waktu, dan keterampilan teknis yang relevan.

Gelar akademik juga memberikan pengakuan dan prestise yang dapat meningkatkan reputasi individu di mata orang lain. Ijazah dapat membuka pintu untuk pengembangan profesional lanjutan melalui program pascasarjana atau pelatihan khusus, serta memberikan kualifikasi untuk berperan penting dalam masyarakat, seperti menjadi pendidik, peneliti, atau profesional kesehatan. Kemudian, selama mengejar ijazah, individu memiliki kesempatan untuk membangun jaringan yang berharga dengan dosen, rekan sekelas, dan profesional dalam bidang mereka.

Baca Juga  Sirekap Menghantui Pemilu Indonesia: Sebuah Seruan Perbaikan untuk Kepercayaan Demokrasi

Namun, meskipun keutamaan ini sangat penting, harus diingat bahwa kepemilikan ijazah tidak selalu menjadi penentu satu-satunya kesuksesan dalam hidup. Faktor lain seperti pengalaman kerja, keterampilan praktis, dan kepribadian juga memiliki peran yang signifikan dalam mencapai tujuan pribadi dan karier. Oleh karena itu, keputusan untuk mengejar ijazah sebaiknya dipertimbangkan dengan bijak, sambil tetap membuka kemungkinan alternatif seperti pelatihan teknis atau menjalankan usaha sendiri, yang dapat cocok dengan aspirasi dan minat individu.

Pentingnya ijazah yang sebenarnya hanyalah selembar kertas tidak terlihat sesimpel itu, khususnya ketika terjadi kesalahan dalam penulisannya. Hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi para ribuan ijazah yang salah ketik di Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rektor Undana, Max Sanam secara tegas menyatakan bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan tersebut dan menunjukkan penyesalannya kepada alumni Undana di Gedung Rektorat Undana (Redaksi, 2023). Ia juga mengakui bahwa seharusnya ia melakukan pemeriksaan lebih teliti sebelum menandatangani ijazah-ijazah tersebut. Max Sanam mengungkapkan bahwa kesalahan ini terjadi karena ia terburu-buru dan akhirnya hanya menandatangani ija Top of Formzah tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut kemudian mengandalkan tanda tangan sebelumnya dari dekan-dekan dan menganggapnya sudah benar (Redaksi, 2023).

Kesalahan pengetikan yang terdapat pada ijazah terkait dengan nomor akreditasi perguruan tinggi. Nomor yang tertera pada ijazah tidak sesuai dengan nomor yang seharusnya, dan Max Sanam mengonfirmasi bahwa nomor yang benar adalah 121/SK/BAN-PT/Ak/PT/II/2023, berbeda dari yang tertulis pada ijazah, yaitu 38/SK/BAN-PT/Akred/PT/III/2018 (Redaksi, 2023). Lebih lanjut, Max Sanam menjelaskan bahwa semua dokumen yang telah ia terima telah ditandatangani oleh dekan-dekan fakultas sebelumnya dan ia baru menandatangani ijazah-ijazah tersebut hingga sehari sebelum acara wisuda mahasiswa. Sebagai respons atas kesalahan ini, Max Sanam mengeluarkan surat keterangan untuk menjelaskan kesalahan penulisan nomor akreditasi perguruan tinggi tersebut. Ia juga meyakinkan bahwa ijazah-ijazah yang telah dikeluarkan tetap berlaku dan sah.

Baca Juga  Efektifitas Media Sosial dalam Membangun Komunikasi Antarsesama

Kesalahan penulisan pada ijazah dapat memiliki sejumlah dampak yang signifikan, memengaruhi berbagai pihak yang terlibat. Pertama, penerima ijazah mungkin mengalami ketidakpastian mengenai status pendidikan mereka dan meragukan keabsahan ijazah tersebut. Kedua, lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah dengan kesalahan penulisan dapat mengalami keraguan terkait keandalan mereka, yang berpotensi merusak reputasi lembaga. Dampak lebih lanjut termasuk kesulitan dalam mencari pekerjaan, ketidaknyamanan bagi alumni dalam menjelaskan kesalahan tersebut kepada calon atasan atau pemberi kerja, dan bahkan potensi tindakan hukum jika kesalahan tersebut mengakibatkan kerugian finansial.

Proses perbaikan juga memerlukan biaya dan waktu tambahan oleh lembaga pendidikan, sementara reputasi lembaga dapat terpengaruh jika masalah ini menjadi sorotan media atau masyarakat. Dapat dipahami bahwa menjaga akurasi dalam penerbitan ijazah menjadi sangat penting untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul. Pentingnya akurasi dan keandalan dalam proses penerbitan ijazah tidak boleh diabaikan. Kesalahan semacam ini dapat menciptakan keraguan, ketidakpastian, dan dampak serius pada mahasiswa yang menerima ijazah, lembaga pendidikan yang mengeluarkannya, serta prospek karier seseorang.

Pencegahan kesalahan penulisan ijazah harus menjadi prioritas utama bagi lembaga pendidikan untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan. Jadi, meskipun kesalahan penulisan ijazah terlihat sebagai masalah yang sederhana, dampaknya mencakup banyak aspek yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga akurasi dan keandalan dalam penerbitan ijazah.

Redaksi. (2023, September 21). Ribuan Ijazah Salah Ketik, Rektor Undana Kupang Khilaf Buru-buru Teken. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia .com/nasional/20230921083928-20-1001762/ribuan-ijazah-salah-ketik-rektor-undana-kupang-khilaf-buru-buru-teken

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *