Kesaktian Cinta Seorang Ibu | Jurnalpost

Ilustrasi (foto: Herman Damar)

Oleh Fransisko Chaniago, M.Pd, Dosen MPI UIN SUTHA Jambi

JurnalPost.com – Menceritakan kisah tentang perjuangan seorang ibu bukanlah suatu hal yang mudah untuk dinarasikan, tidak pula semudah menarik benang di dalam tepung. Artinya, tidak semena-mena dianggap sepele melahirkan kalimat dalam tiap-tiap paragrafnya.

Membuat narasi tentang kisah seorang ibu sama halnya seperti membuka lembaran tentang kesaktian cinta yang tiada tara. Cinta ibu merupakan sesuatu yang begitu mendalam dan tak terbatas, melebihi batas-batas ruang dan waktu.

Dimata anaknya, ibu adalah figur yang penuh keagungan dalam peran orangtua. Bahkan dalam ajaran Islam pun, kedudukan seorang ibu dianggap lebih tinggi daripada ayah. Mendengar kata “Ibu” difikiran anaknya yaitu tentang pengorbanan, keberanian, dan kelembutan yang tak terukur. Begitulah ibu, ia lihai menyembunyikan rasa sedih dalam senyumnya tetapi tidak untuk selamanya. Seiring berjalannya waktu, anaknya tumbuh dewasa dan ibu tidak bisa lagi merahasiakan tentang sedih dan bahagiannya. Kesedihan dan kebahagiaan itu sudah dapat terlihat jelas dengan penuh kesadaran oleh anaknya.

Kesadaran itu hadir ketika ibu jatuh sakit, kurang lebih tiga tahun rasa sakit itu bersama ibu dan berbagai obat sudah dicoba untuk meredam rasa sakit agar ibu bisa beraktivitas demi terlihat kuat dan sehat dimata anaknya. Selama ini Ibu selalu berbohong menyiasati rasa sakit dengan kesembuhan hanya untuk memberikan dukungan tanpa syarat untuk menguatkan hati dan perasaan anaknya.

Sampai tibalah waktunya, ibu sakit parah dan cukup sulit untuk bisa terlihat sehat seperti biasa. Kabarpun sampai kepada anaknya bahwa sakit ibu tidak bisa lagi diredam dengan obat-obatan seadanya sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit. Hal yang paling menyedihkan adalah kabar itu tidak dari ibu, tidak pula dari ayah. Melainkan dari warga setempat yang menyampaikan kepada anaknya. Tiba di rumah sakit dokter menyampaikan bahwa ibu mengidap penyakit komplikasi. Sebegitunya ibu yang ingin terlihat sehat, ia menutupi dan menahan rasa sakit sehingga tidak ingin menjadi beban fikiran untuk anaknya.

Baca Juga  Pemilu yang Jurdil | Jurnalpost

Selama hampir dua minggu di rumah sakit, ibu menahan rasa sakit tanpa menangis dan tak bisa tidur. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya dan sikapnya menggambarkan bahwa ia sedang kesakitan. Anaknya menyadari bahwa obat yang diberikan dokter hanya mampu meredakan radang atau nyeri penyakit ibunya selama tiga jam.

Kondisi ibu yang menderita komplikasi memerlukan tiga kali operasi yang tak terbayangkan dan dengan biaya yang tidak sedikit. Tidak sampai tahap oprasi ibupun telah tiada. Banyak pesan yang ditinggalkan oleh ibu sebelum kepergiannya, dan pesan itu akan tertanam abadi selamanya.

Kehilangan seorang ibu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan dan sulit untuk diterima. Terutama bagi anaknya. Dalam renungan selalu tergambar paras ibu, mengenang semasa hidupnya dan ibu selalu meninggalkan jejak yang menginspirasi, jejak yang memandu langkah-langkah untuk anaknya dalam membangun masa depan yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu, meskipun ibu tidak lagi bersama secara fisik, kehadiran ibu tetap abadi dalam setiap hembusan angin dan di setiap detik kehidupan yang dijalani.

Dibalik duka yang mendalam, ibu meninggalkan pesan dan mendorong anaknya untuk menjadi lebih kuat dan tekun dalam menjalani hidup. Setiap langkah yang diambil, setiap pencapaian yang diraih, menjadi bagian dari warisan cinta yang telah ditanamkan oleh ibu.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *