Kauman, Kampung Multietnik Sebagai Simbol Toleransi Kota Semarang

Masjid Agung Kampung Kauman, sumber: dok.pribadi

JurnalPost.com – Secara historis ratusan tahun yang lalu, Kota dengan toleransi yang sangat tinggi dan menjadi wajah dari suatu bentuk kerukunan masyarakat multietnik adalah kota semarang. Tak dapat dipungkiri bahwa meskipun memiliki perbedaan dalam bentuk keyakinan, budaya, maupun suku bangsa, meskipun selalu hidup berdampingan warga setempat tidak satupun terjadi perselisihan antar warga dan tetap selalu rukun.

Kampung Kauman merupakan sebuah pemukiman yang terletak di Kecamatan Semarang tengah, yang penduduknya dihuni tidak hanya keturunan ras Jawa akan tetapi, juga dihuni oleh masyarakat keturunan Arab dan Tionghoa. Kampung Kauman dengan perbedaan kepercayaan dan aliran penduduknya mampu hidup secara berdampingan. Di kampung Kauman seluruh masyarakat mendapat perlakuan yang sama dan tidak ada satupun masyarakat yang mendapat perlakuan berbeda, warga Kauman yang memiliki kepercayaan yang berbeda secara minoritas tidak dikucilkan oleh masyarakat dengan kepercayaan mayoritas. “ warga kauman dari dulu hingga sekarang hidup dengan damai dan tidak pernah membeda-bedakan agama, apa lagi disini selain warna muslim juga banyak warga Tionghoa” kata pak Winamo selaku warga kampung kauman (21/9/2023)

Tempat yang paling akrab terdengar di telinga adalah Pasar Johar dan Alun-Alun Kota Semarang yang merupakan wajah dari perkampungan, letaknya di pusat Kota dan memiliki karakteristik yang cukup unik. Tempat ini tersusun memutari Kota Kabupaten Semarang (sekarang Kabupaten pindah ke Ungaran dan sebelum menjadi Kota Semarang) dengan berbagai macam perbedaan etnik. Mengapa perkampungan ini dibilang cukup unik? karena letaknya yang dikelilingi oleh berbagai macam masyarakat multietnik. Di sisi Utara terdapat bangunan peninggalan bangsa Eropa (Belanda) yang berdiri sebuah gereja dengan nama Blenduk (GIPB Emanuel) dengan sebutan akrabnya adalah Kota Lama.

Baca Juga  Pelajari Kompetensi Pemboran, PPSDM Migas Latih Operator OLB dan OMB

Di sisi Barat terdapat perkumpulan sebuah perkampungan dengan masyarakat mayoritas suku jawa beragama muslim dan membentuk sebuah perkampungan bernama Kampung Kauman dengan ditandai didirikan sebuah masjid besar bernama Masjid Agung Kauman. Di sisi Timur terkenal dengan sebuah perkampungan yang sering disebut perkampungan Pekojan dimana perkampungan ini terbentuk diambil dari nama koja yang digunakan untuk panggilan tertentu suatu etnik (koja). Sebagian penduduknya memiliki etnik Timur Tengah dan India, ditandai dengan berdirinya bangunan Masjid Jami Pekojan yang berdiri sejak abad 1,2 lalu. Di sisi selatan berdiri sebuah perkampungan dengan penduduk mayoritas keturunan etnik Tiongkok, perkampungan tersebut banyak berdiri bangunan dengan arsitektur yang khas tiongkok dan ditandai dengan tempat peribadatan berupa klenteng, nama perkampungan ini adalah Pecinan.

Pada saat bulan Ramadhan seluruh umat beragama islam baik dari sisi Timur dan Barat Pasar Johar dan Alun-Alun, seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya yaitu menjalankan ibada puasa diikuti dengan melakukan kegiatan lainya seperti berbuka puasa dan bersama-sama melakukan shalat tarawih secara berjamaah. Dibulan yang sama masyarakat dengan agama yang berbeda juga turut andil dalam kegiatan ramadhan dengan membagikan takjil secara gratis bagi umat muslim yang sedang berpuasa “ kita warga non muslim kalau pada saat bulan ramadhan selalu ikut ramai-ramai membagikan takjil untuk warga yang lagi puasa, karena kita ikut merasakan keberkahan dan berbagi kebahagiaan pada saat itu” ujar Melawati salah satu warga dijalan gang Pinggir, Kota Semarang.

Memasuki perayaan imlek yang biasanya berlangsung perkampungan Pecinan, warga sekitar yang memiliki perbedaan kepercayaan tidak pernah mempersoalkan hal tersebut. Ketika itu warga tiongkok mempersembahkan berbagai kesenian budaya khas dari mereka sebagai suatu tontonan dan hiburan untuk masyarakat. Begitu pula ketika umat nasrani menjalankan ibadah dan merayakan hari besar mereka seperti Natal dan hari paskah di Gereja Blenduk, masyarakat yang berbeda keyakinan saling menghormati

Baca Juga  Kolaborasi Fikom Universitas Ciputra dan SMP Katolik Santo Vincentius Surabaya dalam Workshop Mobile Photo dan Video Editing

Kampung Kauman merupakan miniatur kebhinekaan dari Negara Indonesia dengan segala gerak hidup dan persoalan yang ada didalamnya, secara historis Kauman sangat erat kaitanya dengan stigma sebagai pusat keagamaan yang kental dengan berbagai budayanya yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang beragam,di sisi lain kampung kauman menunjukkan wajah masyarakat Indonesia yang terkenal dengan toleransinya yang tinggi, sehingga dapat menginspirasi seluruh masyarakat indonesia terutama daerah perkampungan multietnik dengan kebiasaan dan kepercayaan yang beragam.

Penulis : Defi Anggi Cahyati
Fakultas Pendidikan sejarah
Universitas Negeri Semarang

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *