Awasi Mental Anak! : Belajar dari Kasus Siswa SD yang Melompat dari Lantai 4

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro, M.Hum.
Universitas Andalas

JurnalPost.com – Polres Jakarta Selatan tengah melakukan penyelidikan intensif mengenai insiden tragis di sebuah sekolah di daerah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, di mana seorang siswi kelas 6 SD meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 4 gedung sekolah pada tanggal 26 September. Mereka telah meminta keterangan dari berbagai saksi, termasuk guru dan murid di sekolah tersebut, dalam upaya untuk memahami lebih dalam tentang kronologi dan faktor yang mungkin mempengaruhi peristiwa tersebut.

Meskipun awalnya ada spekulasi tentang kemungkinan perundungan, Kapolsek Pesanggrahan dan Plt Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah menegaskan bahwa tidak ada bukti perundungan yang terkait dengan insiden ini. Selain itu, mereka memberikan penjelasan awal tentang bagaimana insiden tersebut terjadi, dengan Kapolsek menyebut bahwa korban terjatuh saat bermain di pilar gedung, sedangkan Plt Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa korban terjatuh setelah berkegiatan di luar kelas. Para guru di sekolah tersebut saat ini sedang dalam kondisi kaget atas insiden yang tragis ini. Polres Jakarta Selatan juga sedang mencari tahu motif di balik peristiwa tersebut sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung.

Meskipun mungkin sulit untuk dipercaya, anak-anak, bahkan yang masih sangat muda, bisa saja memiliki pemikiran atau niat untuk bunuh diri. Ini adalah masalah yang sangat serius dan harus ditangani dengan sangat serius. Peristiwa seperti anak-anak yang mencoba bunuh diri atau menunjukkan niat untuk bunuh diri dapat memiliki dampak psikologis yang serius pada anak-anak. Hal ini tidak boleh disepelekan oleh para orang dewasa atau orang tua jika di rumah atau para guru jika di sekolah. Kasus yang terjadi di sekolah di Pesanggrahan memberikan pengajaran bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja terhadap mental siswa-siswa. Beberapa anak bahkan mungkin mencoba untuk mengungkapkan niat tersebut kepada orang dewasa atau teman-teman mereka. Pemikiran atau niat bunuh diri pada anak-anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti gangguan mental, pengalaman traumatis, tekanan sosial, atau faktor lainnya.

Baca Juga  Dongkrak Kualitas Pendidikan, PPSDM Migas Gelar Lomba PPSDM Migas Juara

Seorang anak pun mampu memiliki trauma emosional sehingga seseorang anak mengalami stres, kecemasan, dan ketakutan yang berhubungan dengan pengalaman tersebut. Berbagai hal dapat menjadi penyebab hal tersebut, salah satunya adalah lingkungan di sekitar anak, termasuk sekolah, keluarga, dan komunitasnya, dapat memengaruhi tingkat stres dan kecemasan. Jika anak merasa bahwa lingkungan mereka tidak aman atau tidak mendukung, ini dapat meningkatkan ketegangan emosional yang nantinya dapat berdampak pada tindakan jangka pendek yang dilakukan oleh anak-anak.

Anak-anak mungkin juga mengalami kecemasan yang berkaitan dengan kesejahteraan mental. Peristiwa ini dapat memengaruhi konsep mereka tentang kematian. Selain itu, mereka mungkin merasa kurang aman, terutama jika merasa sekolah atau lingkungan mereka tidak mendukung. Dalam menghadapi dampak psikologis ini, penting untuk memberikan dukungan emosional yang kuat, mendengarkan, dan berbicara terbuka dengan anak-anak tentang perasaan mereka. Juga, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang profesional kesehatan mental anak jika diperlukan. Upaya bersama dengan sekolah dan komunitas juga penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental anak-anak.

Dalam investigasi sementara, adanya teman korban yang sudah berusaha untuk melerai dan melarang untuk melakukan perbuatan yang tidak diinginkan. Namun, korban tetap melakukan perbuatannya tersebut. Hal ini pun dapat menjadi sebuah permasalahan bagi siswa yang berinteraksi atau yang melihat korban melompat. Tidak hanya menjadi memori dalam ingatannya, anak-anak mungkin merasa bersalah karena tidak dapat mencegah peristiwa tersebut atau merasa bahwa mereka berkontribusi secara tidak langsung pada kejadian tersebut. Ini dapat memicu perasaan stres dan kecemasan.

Psikologis anak tersebut menimbulkan perasaan bersalah, perubahan dalam perilaku seperti isolasi sosial, kesulitan tidur atau makan, dan kebingungan tentang perasaan mereka sendiri. Setelah melalui hal tersebut, jika memang siswa yang berinteraksi atau yang melihat tindakan tersebut harus dukungan yang kuat, mendengarkan mereka, dan membantu mereka mengatasi perasaan stres, kecemasan, dan ketakutan yang mungkin timbul akibat pengalaman traumatis. Jika memang pihak terdekat tidak dapat menghadapi hak tersebut, mungkin sebaiknya siswa dan guru atau orang tua dapat menemui seorang profesional kesehatan mental anak juga dapat membantu anak mengatasi dampak psikologis dari peristiwa tersebut. Penciptaan lingkungan yang aman dan mendukung di sekolah dan di rumah juga dapat berperan penting dalam membantu anak pulih dari pengalaman traumatis.

Baca Juga  Alfath Flemmo, Komposer Musik Gen Z yang Sukses Berkarir di Jakarta. Ikuti Kisahnya!

Mencegah niat bunuh diri pada anak-anak adalah suatu prioritas penting yang memerlukan perhatian dan tindakan dari orang tua, pengasuh, guru, dan masyarakat secara umum. Semua pihak harus membuka komunikasi yang kuat dengan anak-anak, menciptakan lingkungan di mana mereka merasa nyaman untuk berbicara tentang perasaan mereka tanpa takut dihakimi. Penting untuk mengenali tanda-tanda yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang anak sedang mengalami stres, kecemasan, atau depresi dan memberikan perhatian khusus terhadap perubahan perilaku mereka.

Pencegahan niat bunuh diri pada anak-anak melibatkan upaya bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental mereka. Anak harus dapat menyatakan emosi mereka dengan cara yang sehat dan temukan cara untuk mengatasi stres. Pastikan bahwa anak memiliki jaringan dukungan yang kuat termasuk keluarga, teman-teman, guru, dan ahli kesehatan mental. Pendidikan tentang kesehatan mental juga penting sehingga anak dapat mengenali perasaan mereka dan mencari bantuan jika diperlukan. Selain itu, perhatikan kegiatan daring anak dan pastikan mereka memiliki rutinitas sehari-hari yang sehat. Jika Anda melihat perubahan drastis dalam perilaku anak, seperti pernyataan niat bunuh diri, segera cari bantuan profesional.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *